It's been a while since I feel like to write again. I had no idea what to write 'tho, and peeking to this blog had scared me for feel of guilty to abandon it. Two years since I maintain this blog. Two long years since I gave up putting everything I have in mind. You see I've never been a fan of electronic writings. I always prefer the old fashion way, paper and pen (or pencils in my case).
Well, in one of those books about writing that I read long time ago, I remember the writer said, "If you want to write, just write, and don't think". I, obediently, follow his instruction, and failed. Somehow I think it shows my brain level. Haha. I was never the one with a bright ideas when it comes to writing. But I believe in enthusiasm and determination. It never fails me. So those two years when i left this blog unattended, I admitted that I lost all my sheer joy to write.
What changed my mind the past few weeks is actually a simple act. Another hobby of mine, reading. So I read. And read, and read, and read until I feel the urge to write again. That's when I push myself to open this blog again, and badabum, comments. Lots of comments that light up the day. :). Some of it dated back in 2011 with the most recently in October 2012. I'm very sorry that I didn't reply sooner. I'm very sorry that I've been such a coward just because I lost all my will to write.
Now, I don't promise to write and post regularly. But I promise that I'll never leave (again). So, welcome back me!
Tuesday, January 15, 2013
Thursday, March 31, 2011
I U D
![]() | |
| IUD COPPER T, aslinya lebih kecil lho |
Hari ini adalah hari ke empat Bunda 'datang bulan', dan merupakan yang pertama kali setelah memutuskan untuk pasang IUD Copper T bulan lalu. Bidan Fira sudah banyak kasih masukan tentang efek samping yang mungkin akan Bunda alami, salah satunya adalah darah haid yang banyak. OK, I can deal with that. Lalu nyeri perut. Hello, I've been having that since before teenage, so i don't think that's a problem.
Hari pertama haid, Senin (28/3), tumben yang keluar tidak sebanyak bulan-bulan sebelumnya. Hari keduapun tidak berbeda. Tapi Bidan Fira juga memperingatkan bahwa beda orang beda efek. Jadi, mungkin Bunda salah satu yang tidak mengalami efek 'kebanjiran' dan sakit melilit itu. Hari ketiga belum ada perubahan sampai sore harinya pas Bunda mau mandi. OMG, ini mah banjir bandang!!! Lalu disusul dengan melilitnya perut yang dua kali lebih sakit dari yang biasanya Bunda alami. Langsung panggil SOS, "Ayaaaaah.....!"
Hari keempat, yaitu saat ini Kamis (31/3), Bunda bukan lagi terkena banjir bandang tapi sudah dilanda sunami. Tidaaaaaak! Pembalut yang baru diganti dua jam lalu, sudah gelebes, bahasa jawanya. Masya Allah. Benar-benar sunami deh. Tapi alhamdulilahnya Bunda tidak mengalami swing mood lho. Emosi dan nafsu makan aman dan terkendali. Biasanya kan lebay banget deh kalau lagi begini.
Tapi di luar semuanya itu, keuntungan yang paling Bunda rasakan adalah ketenangan batin. Dan hal ini merembet ke semakin baiknya hubungan dengan si Ayah. Ayah ingin secepatnya memberikan adik buat Rasyad. OMG, berpikir ke arah situ saja belum. Kenapa? Satu, karena Rasyad lahir dengan sectio, dan Bunda harus menunggu minimal dua tahun untuk bisa hamil lagi. Kedua, Bunda mau kami menstabilkan perekonomian rumah dulu sebelum datang satu lagi anggota baru. Biar semua bisa tumbuh dan berkembang dengan sempurna. Ketiga, Bunda mau punya rumah dulu dong sebelum itu. Biar nanti anak-anak Bunda punya kamar masing-masing dan Bunda bisa mesra-mesraan berdua Ayah. LOL.
Monday, March 14, 2011
Tangan dan Kaki Bayi Dingin
| Pertama kali Rasyad urut -senangnya sampai seperti bersenandung- |
Tangan dan kaki bayi terasa dingin? Jangan cemas! Itu hal yang wajar pada bayi baru lahir.
Bila tangan dan kaki mungil bayi terasa dingin, tidak selalu berarti bayi kedinginan. Selama bagian dada dan perutnya masih terasa hangat bila diraba, dan permukaan kulitnya tidak tampak kebiru-biruan, bayi sebetulnya “aman-aman” saja.
Sistim tubuhnya belum matang. Sekalipun bayi Anda lahir cukup bulan, tapi pada kenyataannya belum seluruh sistem di dalam tubuh bayi mampu berfungsi optimal. Jadi, banyak sistem tubuhnya yang masih harus melanjutkan proses pertumbuhan dan perkembangan serta pematangan.
Nah, salah satu sistem tubuhnya yang belum berkembang dengan sempurna pada bayi baru lahir adalah sistem sirkulasi atau peredaran darahnya. Keadaan ini menyebabkan tubuh bayi memprioritaskan peredaran darah mengalir ke organ-organ tubuh yang penting terlebih dahulu. Yakni, organ-organ tubuh yang sangat dibutuhkan dalam menunjang jalannya proses metabolisme penunjang kehidupan. Contohnya, otak, paru-paru, dan jantung. Baru setelah itu, aliran darah ditujukan ke organ-organ tubuh lainnya. Tangan dan kaki termasuk organ tubuh yang paling akhir untuk dialiri darah.
Bantu hangatkan tubuh. Adanya keterbatasan kemampuan fungsi jantung dan sistem peredaran darah bayi, seringkali aliran darah berjalan lambat dan lama untuk mencapai tangan dan kakinya. Inilah yang menyebabkan tangan dan kaki bayi terasa dingin bila diraba, dan kulit telapak tangan dan telapak kakinya terlihat agak pucat.
Seluruh sistem peredaran darah bayi umumnya butuh waktu sekitar 3-4 bulan untuk berkembang dan mencapai tahap kematangannya. Hal ini akan berlangsung sejalan dengan semakin aktifnya bayi bergerak dan beraktivitas.
http://www.ayahbunda.co.id/
Apakah Anak Anda Sedang Berada Dalam Keadaan Gawat Darurat?
Diambil dari Milis Sehat
Setiap anak yang sehat sekalipun dapat jatuh sakit maupun terluka. Pada beberapa keadaan, orang tua dapat langsung memutuskan untuk membawa, anak ke Instalasi Gawat Darurat atau klinik 24 jam pada Rumah Sakit terdekat. Sedangkan pada keadaan yang lain, orang tua dapat dihadapkan pada kesulitan untuk mengetahui apakah kecelakaan atau penyakit yang dialami membutuhkan perawatan oleh tenaga ahli, atau sebaliknya cukup dilakukan perawatan di rumah.
Setiap masalah tentunya memerlukan penanganan yang berbeda-beda. Namun, ketika anak Anda di hadapkan dengan masalah kesehatan, dibawah diberikan beberapa pilihan dalam penanganan kondisi kesehatan :
Penanganan di rumah (Home Care). Banyak kecelakaan kecil dan beberapa penyakit, misalnya tersayat pisau, lebam, batuk, demam, luka akibat garukan, dapat ditangani cukup dengan perawatan di rumah, dan jika diperlukan dapat ditambah dengan obat bebas (over-the-counter)
Setiap masalah tentunya memerlukan penanganan yang berbeda-beda. Namun, ketika anak Anda di hadapkan dengan masalah kesehatan, dibawah diberikan beberapa pilihan dalam penanganan kondisi kesehatan :
Penanganan di rumah (Home Care). Banyak kecelakaan kecil dan beberapa penyakit, misalnya tersayat pisau, lebam, batuk, demam, luka akibat garukan, dapat ditangani cukup dengan perawatan di rumah, dan jika diperlukan dapat ditambah dengan obat bebas (over-the-counter)
Hubungi dokter keluarga. Jika Anda tidak yakin dengan tindakan yang dibutuhkan oleh anak Anda, dokter keluarga atau perawat yang bekerja pada pusat pelayanan kesehatan dapat membantu Anda untuk memutuskan langkah apa yang harus Anda ambil dan lakukan.
Kunjungi klinik 24 jam. Klinik 24 jam dapat menjadi pilihan pada kondisi akut, terutama pada malam hari maupun pada akhir pekan, ataupun keadaan ketika dokter praktik Anda tidak berada di tempat. Pada negara berkembang, fasilitas seperti ini dilengkapi dengan alat pemeriksaan penunjang, seperti rontgen (X-Rays), dan penanganan untuk luka yang membutuhkan tindakan seperti jahit luka.
Kunjungi Instalasi Gawat Darurat RS terdekat. IGD, dapat menangani berbagai masalah kesehatan yang bersifat serius, seperti perdarahan hebat, trauma kepala, kejang, radang pada selaput otak (Meningitis), sesak napas, dehidrasi, dan infeksi bakteri yang berat.
Hubungi ambulance. Beberapa keadaan membutuhkan penanganan tenaga kesehatan profesional dalam perjalanan menuju rumah sakit. Misalnya, jika anak Anda mengalami kecelakaan lalu lintas, mengalami trauma atau masalah pada bagian leher atau kepala, membutuhkan penanganan yang serius dan hati-hati; dan jika mengalami perburukan, segera hubungi pelayanan ambulance terdekat.
Sebagai orang tua terkadang sulit untuk melakukan keputusan ini. Anda tidak mau terburu-buru ke IGD jika bukan suatu gawat darurat, namun anda juga tidak mau terlambat mendapat pertolongan medis jika anak anda membutuhkan tindakan segera. Dengan pertumbuhan anak anda dan kejadian (sakit) yang muncul anda akan belajar mempercayai penilaian anda mengenai gawat darurat.
Yang perlu diingat bahwa ketika Anda sedang diperhadapkan dengan kondisi kesehatan anak yang ringan, akan lebih baik jika Anda menghubungi dokter anak Anda, pergi ke unit gawat darurat terdekat atau tangani masalah tersebut di rumah. Kadang-kadang, situasi unit gawat darurat cukup ramai sehingga Anda mungkin akan menunggu lama hanya untuk menangani masalah yang kecil.
Haruskah saya mendatangi Instalasi Gawat Darurat??
Berikut beberapa keadaan kesehatan untuk mendatangi Instalasi Gawat Darurat:
a. Jika anak mengalami kesulitan bernafas
b. Jika anak mengalami perubahan mental, seperti perlahan-lahan tertidur yang tidak wajar atau sulit dibangunkan, disorientasi atau seperti orang yang kebingungan
c. Jika ada luka potong pada kulit yang menyebabkan perdarahan yang sulit dihentikan
d. Jika anak mengalami kaku pada leher disertai demam
e. Jika nadi anak cepat dan terus menerus
f. Jika secara tidak disengaja menelan bahan yang beracun atau menelan obat dalam jumlah berlebih
g. Jika anak mengalami trauma/luka pada kepala yang menyebabkan perdarahan.
Keadaan lain yang tidak kalah penting, namun tidak harus segera dibawa ke Instalasi Gawat Darurat. Keadaan berikut juga meliputi gejala yang dapat dipertimbangkan untuk menghubungi dokter Anda:
- Demam tinggi
- Nyeri telinga
- Nyeri perut
- Nyeri kepala yang tidak mengalami perubahan
- Ruam
- Mengeluarkan suara “ngik…ngik” pada saat bernapas
- Batuk yang menetap
Jika Anda ragu-ragu, hubungi dokter Anda. Bahkan jika dokter tidak ada, perawat yang bertugas dapat membantu Anda untuk memutuskan apakah anak Anda perlu di bawa ke instalasi gawat darurat atau tidak. Untuk waktu tertentu seperti akhir pekan atau tengah malam, beberapa dokter dapat melakukan pelayanan melalui telepon, sehingga dapat langsung berkomunikasi dengan Anda. Tentunya, jika Anda meninggalkan pesan terlebih dahulu.
Layanan 24 jam
a. Jika anak mengalami kesulitan bernafas
b. Jika anak mengalami perubahan mental, seperti perlahan-lahan tertidur yang tidak wajar atau sulit dibangunkan, disorientasi atau seperti orang yang kebingungan
c. Jika ada luka potong pada kulit yang menyebabkan perdarahan yang sulit dihentikan
d. Jika anak mengalami kaku pada leher disertai demam
e. Jika nadi anak cepat dan terus menerus
f. Jika secara tidak disengaja menelan bahan yang beracun atau menelan obat dalam jumlah berlebih
g. Jika anak mengalami trauma/luka pada kepala yang menyebabkan perdarahan.
Keadaan lain yang tidak kalah penting, namun tidak harus segera dibawa ke Instalasi Gawat Darurat. Keadaan berikut juga meliputi gejala yang dapat dipertimbangkan untuk menghubungi dokter Anda:
- Demam tinggi
- Nyeri telinga
- Nyeri perut
- Nyeri kepala yang tidak mengalami perubahan
- Ruam
- Mengeluarkan suara “ngik…ngik” pada saat bernapas
- Batuk yang menetap
Jika Anda ragu-ragu, hubungi dokter Anda. Bahkan jika dokter tidak ada, perawat yang bertugas dapat membantu Anda untuk memutuskan apakah anak Anda perlu di bawa ke instalasi gawat darurat atau tidak. Untuk waktu tertentu seperti akhir pekan atau tengah malam, beberapa dokter dapat melakukan pelayanan melalui telepon, sehingga dapat langsung berkomunikasi dengan Anda. Tentunya, jika Anda meninggalkan pesan terlebih dahulu.
Layanan 24 jam
Kadang-kadang, luka atau penyakit tidak berat namun membutuhkan penanganan pada saat itu juga. Jika Anda mengalami masalah demikian, dan dokter Anda tidak melakukan pelayanan kesehatan pada saat itu, keputusan untuk mendatangi layanan 24 jam dapat dilakukan.
Layanan 24 jam akan menerima Anda tanpa harus membuat janji terlebih dahulu, setibanya Anda di sana. Namun, mereka dilengkapi dengan peralatan dan personil yang siap untuk menangani masalah yang ringan, atau keadaan yang bersifat akut. Pasien biasanya akan didatangi oleh dokter dan bahkan dapat diminta untuk melakukan pemeriksaan lanjutan seperti rontgen atau darah.
Kebanyakan layanan ini menawarkan pelayanan yang dimulai pada sore hari atau akhir pekan yang ditujukan kepada pasien yang harus menerima obat saat dokter keluarga tidak ada di tempat. . beberapa bahkan ada yang melakukan pelayanan selama 24 jam setiap hari.
Beberapa kasus yang terjadi yang dapat di bawa ke klinik 24 jam, meliputi:
- Terpotong
- Luka kecil
- Muntah atau diare
- Nyeri telinga
- Batuk berdahak
- Gigitan serangga yang menimbulkan infeksi
- Reaksi alergi yang ringan
- Dicurigai terjadi patah tulang
- Gigitan hewan
Dokter yang bekerja pada fasilitas 24 jam, tidak jarang merupakan dokter keluarga yang fokus pada penanganan masalah orang dewasa dan pediatric (anak-anak). Beberapa klinik 24 jam juga melengkapi tenaga kerja dengan perawat professional. Instalasi Gawat Darurat pada beberapa rumah sakit memiliki bagian untuk menangani trauma atau luka kecil dan beberapa penyakit yang sama dengan klinik 24 jam.
Carilah informasi sebanyak-banyaknya mengenai klinik 24 jam terdekat, sebelum Anda berada pada situasi dimana Anda perlu untuk mendatangi fasilitas kesehatan tersebut. Dokter Anda dapat membantu Anda dengan memberikan rekomendasi mengenai fasilitas tersebut. Yang paling penting, adalah mencari fasilitas kesehatan yang resmi dengan tenaga kesehatan yang terutama di bidang penyakit dalam, anak dan kegawatdaruratan.
Bicara dengan dokter Anda, sebelum anak Anda jatuh sakit, mengenai penanganan masalah gawat darurat pada anak. Dan tanyakan mengenai perjanjian dengan dokter yang dilakukan diluar jadwal pelayanan normal. Memiliki informasi tersebut lebih awal akan mengurangi kepanikan ketika anak Anda jatuh sakit.
(YS)
Diterjemahkan dari :
Is it a medical emergency?
Kate M. Cronan, MD
June 2009
SMART PATIENT
Sharing, semoga berguna buat yang membaca...
(dikutip dari buku "Smart Patient" karya dr. Agnes Tri Harjaningrum)
** Dimana Salahnya?**
Malik tergolek lemas. Matanya sayu. Bibirnya pecah-pecah. Wajahnya kian tirus. Di mataku ia berubah seperti anak dua tahun kurang gizi. Biasanya aku selalu mendengar celoteh dan tawanya di pagi hari. Kini tersenyum pun ia tak mau. Sesekali ia muntah. Dan setiap melihatnya muntah, hatiku tergores-gores rasanya. Lambungnya diperas habis-habisan seumpama ampas kelapa yang tak lagi bisa mengeluarkan santan. Pedih sekali melihatnya terkaing-kaing seperti itu.
Waktu itu, belum sebulan aku tinggal di Belanda, dan putraku Malik terkena demam tinggi. Setelah tiga hari tak juga ada perbaikan aku membawanya ke huisart (dokter keluarga) kami, dokter Knol namanya.
"Just wait and see. Don’t forget to drink a lot. Mostly this is a viral infection." kata dokter tua itu.
"Ha? Just wait and see? Apa dia nggak liat anakku dying begitu?" batinku meradang. Ya…ya…aku tahu sih masih sulit untuk menentukan diagnosa pada kasus demam tiga hari tanpa ada gejala lain. Tapi masak sih nggak diapa-apain. Dikasih obat juga enggak! Huh! Dokter Belanda memang keterlaluan! Aku betul-betul menahan kesal.
"Obat penurun panas Dok?" tanyaku lagi.
"Actually that is not necessary if the fever below 40 C."
Waks! Nggak perlu dikasih obat panas? Kalau anakku kenapa-kenapa memangnya dia mau nanggung? Kesalku kian membuncah.
Tapi aku tak ingin ngeyel soal obat penurun panas. Sebetulnya di rumah aku sudah memberi Malik obat penurun panas, tapi aku ingin dokter itu memberi obat jenis lain. Sudah lama kudengar bahwa dokter disini pelit obat. Karena itu aku membawa setumpuk obat-obatan dari Indonesia, termasuk obat penurun panas.
Dua hari kemudian, demam Malik tak kunjung turun dan frekuensi muntahnya juga bertambah. Aku segera kembali ke dokter. Tapi si dokter tetap menyuruhku wait and see. Pemeriksaan laboratorium baru akan dilakukan bila panas anakku menetap hingga hari ke tujuh.
"Anakku ini suka muntah-muntah juga Dok," kataku.
Lalu si dokter menekan-nekan perut anakku. "Apakah dia sudah minum suatu obat?"
Aku mengangguk. "Ibuprofen syrup Dok," jawabku.
Eh tak tahunya mendengar jawabanku, si dokter malah ngomel-ngomel,"Kenapa kamu kasih syrup Ibuprofen? Pantas saja dia muntah-muntah. Ibuprofen itu sebaiknya tidak diberikan untuk anak-anak, karena efeknya bisa mengiritasi lambung. Untuk anak-anak lebih baik beri paracetamol saja."
Huuh! Walaupun dokter itu mengomel sambil tersenyum ramah, tapi aku betul-betul jengkel dibuatnya. Jelek-jelek begini gue lulusan fakultas kedokteran tau! Nah kalau buat anak nggak baik kenapa di Indonesia obat itu bertebaran! Batinku meradang.
Untungnya aku masih bisa menahan diri. Tapi setibanya dirumah, suamiku langsung menjadi korban kekesalanku."Lha wong di Indonesia, dosenku aja ngasih obat penurun panas nggak pake diukur suhunya je. Mau 37 keq, 38 apa 39 derajat keq, tiap ke dokter dan bilang anakku sakit panas, penurun panas ya pasti dikasih. Sirup ibuprofen juga dikasih koq ke anak yang panas, bukan cuma parasetamol. Masa dia bilang ibuprofen nggak baik buat anak!" Seperti rentetan peluru, kicauanku bertubi-tubi keluar dari mulutku.
"Mana Malik nggak dikasih apa-apa pulak, cuma suruh minum parasetamol doang, itu pun kalau suhunya diatas 40 derajat C! Duuh memang keterlaluan Yah dokter Belanda itu!"
Suamiku menimpali, "Lho, kalau Mama punya alasan, kenapa tadi nggak bilang ke dokternya?"
Aku menarik napas panjang. "Hmm…tadi aku sudah kadung bete sama si dokter, rasanya ingin buru-buru pulang saja. Tapi…alasannya apa ya?"
Mendadak aku kebingungan. Aku akui, sewaktu praktek menjadi dokter dulu, aku lebih banyak mencontek apa yang dilakukan senior. Tiga bulan menjadi co-asisten di bagian anak memang membuatku kelimpungan dan belajar banyak hal, tapi hanya secuil-secuil ilmu yang kudapat. Persis seperti orang yang katanya travelling keliling Eropa dalam dua minggu. Menclok sebentar di Paris, lalu dua hari pergi ke Roma. Dua hari di Amsterdam, kemudian tiga hari mengunjungi Vienna. Puas beberapa hari berdiam di Berlin dan Swiss, kemudian waktu habis. Tibalah saatnya pulang lagi ke Indonesia. Tampaknya orang itu sudah keliling Eropa, padahal ia hanya mengunjungi ibukota utama saja. Masih banyak sekali negara dan kota-kota di Eropa yang belum disambanginya. Dan itu lah yang terjadi pada kami, pemuda-pemudi fresh graduate from the oven Fakultas Kedokteran. Malah kadang-kadang apa yang sudah kami pelajari dulu, kasusnya tak pernah kami jumpai dalam praktek sehari-hari. Berharap bisa memberikan resep cespleng seperti dokter-dokter senior, akhirnya kami pun sering mengintip resep ajian senior!
Setelah Malik sembuh, beberapa minggu kemudian, Lala, putri pertamaku ikut-ikutan sakit. Suara Srat..srut..srat srut dari hidungnya bersahut-sahutan. Sesekali wajahnya memerah gelap dan bola matanya seperti mau copot saat batuknya menggila. Kadang hingga bermenit-menit batuknya tak berhenti. Sesak rasanya dadaku setiap kali mendengarnya batuk. Suara uhuk-uhuk itu baru reda jika ia memuntahkan semua isi perut dan kerongkongannya. Duuh Gustiiii…kenapa tidak Kau pindahkan saja rasa sakitnya padaku Nyerii rasanya hatiku melihat rautnya yang seperti itu. Kuberikan obat batuk yang kubawa dari Indonesia pada putriku. Tapi batuknya tak kunjung hilang dan ingusnya masih meler saja. Lima hari kemudian, Lala pun segera kubawa ke huisart. Dan lagi-lagi dokter itu mengecewakan aku.
"Just drink a lot," katanya ringan.
Aduuuh Dook! Tapi anakku tuh matanya sampai kayak mata sapi melotot kalau batuk, batinku kesal.
"Apa nggak perlu dikasih antibiotik Dok?" tanyaku tak puas.
"This is mostly a viral infection, no need for an antibiotik," jawabnya lagi.
Ggrh…gregetan deh rasanya. Lalu ngapain dong aku ke dokter, kalo tiap ke dokter pulang nggak pernah dikasih obat. Paling enggak kasih vitamin keq! omelku dalam hati.
"Lalu Dok, buat batuknya gimana Dok? Batuknya tuh betul-betul terus-terusan," kataku ngeyel.
Dengan santai si dokter pun menjawab,"Ya udah beli aja obat batuk Thyme syrop. Di toko obat juga banyak koq."
Hmm…lumayan lah… kali ini aku pulang dari dokter bisa membawa obat, walau itu pun harus dengan perjuangan ngeyel setengah mati dan walau ternyata isi obat Thyme itu hanya berisi ekstrak daun thyme dan madu.
"Kenapa sih negara ini, katanya negara maju, tapi koq dokternya kayak begini." Aku masih saja sering mengomel soal huisart kami kepada suamiku. Saat itu aku memang belum memiliki waktu untuk berintim-intim dengan internet. Jadi yang ada di kepalaku, cara berobat yang betul adalah seperti di Indonesia. Di Indonesia, anak-anakku punya langganan beberapa dokter spesialis anak. Dokter-dokter ini pernah menjadi dosenku ketika aku kuliah. Maklum, walaupun aku lulusan fakultas kedokteran, tapi aku malah tidak pede mengobati anakanakku sendiri. Dan walaupun anak-anakku hanya menderita penyakit sehari-hari yang umum terjadi pada anak seperti demam, batuk pilek, mencret, aku tetap membawa mereka ke dokter anak. Meski baru sehari, dua atau tiga hari mereka sakit, buru-buru mereka kubawa ke dokter. Tak pernah aku pulang tanpa obat. Dan tentu saja obat dewa itu, sang antibiotik, selalu ada dalam kantong plastik obatku.
Tak lama berselang putriku memang sembuh. Tapi sebulan kemudian ia sakit lagi. Batuk pilek putriku kali ini termasuk ringan, tapi hampir dua bulan sekali ia sakit. Dua bulan sekali memang lebih mendingan karena di Indonesia dulu, hampir tiap dua minggu ia sakit. Karena khawatir ada yang tak beres, lagi-lagi aku membawanya ke huisart.
"Dok anak ini koq sakit batuk pilek melulu ya, kenapa ya Dok."
Setelah mendengarkan dada putriku dengan stetoskop, melihat tonsilnya, dan lubang hidungnya,huisart-ku menjawab,"Nothing to worry. Just a viral infection."
Aduuuh Doook… apa nggak ada kata-kata lain selain viral infection seh! Lagilagi aku sebal.
"Tapi Dok, dia sering banget sakit, hampir tiap sebulan atau dua bulan Dok," aku ngeyel seperti biasa.
Dokter tua yang sebetulnya baik dan ramah itu tersenyum. "Do you know how many times normally children get sick every year?"
Aku terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. "enam kali," jawabku asal.
"Twelve time in a year, researcher said," katanya sambil tersenyum lebar. "Sebetulnya kamu tak perlu ke dokter kalau penyakit anakmu tak terlalu berat," sambungnya.
Glek! Aku cuma bisa menelan ludah. Dijawab dengan data-data ilmiah seperti itu, kali ini aku pulang ke rumah dengan perasaan malu. Hmm…apa aku yang salah? Dimana salahnya? Ah sudahlah…barangkali si dokter benar, barangkali memang aku yang selama ini kurang belajar.
Setelah aku bisa beradaptasi dengan kehidupan di negara Belanda, aku mulai berinteraksi dengan internet. Suatu saat aku menemukan artikel milik Prof. Iwan Darmansjah, seorang ahli obat-obatan dari Fakultas Kedokteran UI. Bunyinya begini: "Batuk - pilek beserta demam yang terjadi sekali-kali dalam 6 - 12 bulan sebenarnya masih dinilai wajar. Tetapi observasi menunjukkan bahwa kunjungan ke dokter bisa terjadi setiap 2 - 3 minggu selama bertahun-tahun." Wah persis seperti yang dikatakan huisartku, batinku. Dan betul anak-anakku memang sering sekali sakit sewaktu di Indonesia dulu.
"Bila ini yang terjadi, maka ada dua kemungkinan kesalahkaprahan dalam penanganannya," Lanjut artikel itu. "Pertama, pengobatan yang diberikan selalu mengandung antibiotik. Padahal 95% serangan batuk pilek dengan atau tanpa demam disebabkan oleh virus, dan antibiotik tidak dapat membunuh virus. Di lain pihak, antibiotik malah membunuh kuman baik dalam tubuh, yang berfungsi menjaga keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi imunitas si anak, sehingga daya tahannya menurun. Akibatnya anak jatuh sakit setiap 2 - 3 minggu dan perlu berobat lagi.
Lingkaran setan ini: sakit –> antibiotik-> imunitas menurun -> sakit lagi, akan membuat si anak diganggu panas-batuk-pilek sepanjang tahun, selama bertahun-tahun."
Hwaaaa! Rupanya ini lah yang selama ini terjadi pada anakku. Duuh…duuh..kemana saja aku selama ini sehingga tak menyadari kesalahan yang kubuat sendiri pada anak-anakku. Eh..sebetulnya..bukan salahku dong. Aku kan sudah membawa mereka ke dokter
spesialis anak. Sekali lagi, mereka itu dosenku lho! Masa sih aku tak percaya kepada mereka. Dan rupanya, setelah di Belanda 'dipaksa' tak lagi pernah mendapat antibiotik untuk penyakit khas anak-anak sehari-hari, sekarang kondisi anak-anakku jauh lebih baik. Disini, mereka jadi jarang sakit, hanya diawal-awal kedatangan saja mereka sakit.
Kemudian, aku membaca lagi artikel-artikel lain milik prof Iwan Darmansjah. Dan di suatu titik, aku tercenung mengingat kata-kata 'pengobatan rasional'. Lho…bukankah dulu aku juga pernah mendapatkan kuliah tentang apa itu pengobatan rasional. Hey! Lalu kemana perginya ingatan itu? Jadi, apa yang selama ini kulakukan, tidak meneliti baik-baik obat yang kuberikan pada anak-anakku, sedikit-sedikit memberi obat penurun panas, sedikit-sedikit memberi antibiotik, baru sehari atau dua hari anak mengalami sakit ringan seperti, batuk, pilek, demam, mencret, aku sudah panik dan segera membawa anak ke dokter, serta sedikit-sedikit memberi vitamin. Rupanya adalah tindakan yang sama sekali tidak rasional! Hmm... kalau begitu, sistem kesehatan di Belanda adalah sebuah contoh sistem yang menerapkan betul apa itu pengobatan rasional.
Belakangan aku pun baru mengetahui bahwa ibuprofen memang lebih efektif menurunkan demam pada anak, sehingga di banyak negara termasuk Amerika Serikat, ibuprofen dipakai secara luas untuk anakanak. Tetapi karena resiko efek sampingnya lebih besar, Belgia dan Belanda menetapkan kebijakan lain. Walaupun obat ibuprofen juga tersedia di apotek dan boleh digunakan untuk usia anak diatas 6 bulan, namun di kedua negara ini, parasetamol tetap dinyatakan sebagai obat pilihan pertama pada anak yang mengalami demam. "Duh, untung ya Yah aku nggak bilang ke huisart kita kalo aku ini di Indonesia adalah seorang dokter. Kalo iya malu-maluin banget nggak sih, ketauan begonya hehe," kataku pada suamiku.
Jadi, bagaimana dengan para orangtua di Indonesia? Aku tak ingin berbicara terlalu jauh soal mereka-mereka yang tinggal di desa atau orang-orang yang terpinggirkan, ceritanya bisa lain. Karena kekurangan dan ketidakmampuan, untuk kasus penyakit anak sehari-hari, orang-orang desa itu malah relatif 'terlindungi' dari paparan obat-obatan yang tak perlu. Sementara kita yang tinggal di kota besar, yang cukup berduit, sudah melek sekolah, internet dan pengetahuan, malah kebanyakan selalu dokter-minded dan gampang dijadikan sasaran oleh perusahaan obat dan media. Batuk pilek sedikit ke dokter, demam sedikit ke dokter, mencret sedikit ke dokter. Kalau pergi ke dokter lalu tak diberi obat, biasanya kita malah ngomel-ngomel, 'memaksa' agar si dokter memberikan obat. Iklan-iklan obat pun bertebaran di media, bahkan tak jarang dokter-dokter 'menjual' obat tertentu melalui media. Padahal mestinya dokter dilarang mengiklankan suatu produk obat.
Dan bagaimana pula dengan teman-teman sejawatku dan dosen-dosenku yang kerap memberikan antibiotik dan obat-obatan yang tidak perlu pada pasien batuk, pilek, demam, mencret? Malah aku sendiri dulu pun melakukannya karena nyontek senior. Apakah manfaatnya lebih besar dibandingkan resikonya? Tentu saja tidak. Biaya pengobatan membengkak, anak malah gampang sakit dan
terpapar obat yang tak perlu. Belum lagi bahaya besar jelas mengancam seluruh umat manusia: superbug, resitensi antibiotik! Tapi mengapa semua itu terjadi?
Duuh Tuhan, aku tahu sesungguhnya Engkau tak menyukai sesuatu yang sia-sia dan tak ada manfaatnya. Namun selama ini aku telah alpa. Sebagai orangtua, bahkan aku sendiri yang mengaku lulusan fakultas kedokteran ini, telah terlena dan tak menyadari semuanya. Aku tak akan eling kalau aku tidak menyaksikan sendiri dan tidak tinggal di negeri kompeni ini. Apalagi dengan masyarakat awam, para orangtua baru yang memiliki anak-anak kecil itu. Jadi bagaimana mengurai keruwetan ini seharusnya? Uh! Memikirkannya aku seperti terperosok ke lubang raksasa hitam. Aku tak tahu, sungguh!
Tapi yang pasti kini aku sadar…telah terjadi kesalahan paradigma pada kebanyakan kita di Indonesia dalam menghadapi anak sakit. Disini aku sering pulang dari dokter tanpa membawa obat. Aku ke dokter biasanya 'hanya' untuk konsultasi, memastikan diagnosa penyakit anakku dan penanganan terbaiknya, serta meyakinkan diriku bahwa anakku baik-baik saja. Tapi di Indonesia, bukankah paradigma yang masih kerap dipegang adalah ke dokter = dapat obat? Sehingga tak jarang dokter malah tidak bisa bertindak rasional karena tuntutan pasien. Aku juga sadar sistem kesehatan di Indonesia memang masih ruwet. Kebijakan obat nasional belum berpihak pada rakyat. Perusahaan obat bebas beraksi‘ tanpa ada peraturan dan hukum yang tegas dari pemerintah. Dokter pun bebas meresepkan obat apa saja tanpa ngeri mendapat sangsi. Intinya, sistem kesehatan yang ada di Indonesia saat ini membuat dokter menjadi sulit untuk bersikap rasional.
Lalu dimana ujung pangkal salahnya? Ah rasanya percuma mencari-cari ujung pangkal salahnya. Menunjuk siapa yang salah pun tak ada gunanya. Tapi kondisi tersebut jelas tak bisa dibiarkan. Siapa yang harus memulai perubahan? Pemerintah, dokter, petugas kesehatan, perusahaan obat, tentu semua harus berubah. Namun, dalam kondisi seperti ini, mengharapkan perubahan kebijakan pemerintah dalam waktu dekat sungguh seperti pungguk merindukan bulan. Yang pasti, sebagai pasien kita pun tak bisa tinggal diam. Siapa bilang pasien tak punya kekuatan untuk merubah sistem kesehatan? Setidaknya, bila pasien 'bergerak', masalah kesehatan di Indonesia, utamanya kejadian pemakaian obat yang tidak rasional dan kesalahan medis tentu bisa diturunkan.
Thursday, February 10, 2011
ALERGI SUSU SAPI
By Republika Newsroom
JAKARTA-- Memberikan air susu ibu (ASI) pada bayi merupakan yang terbaik. Namun, bagaimana jika pemberian ASI tidak memungkinkan dan bayi mengalami alergi susu formula yang terbuat dari susu sapi? Tentu hal tersebut akan membingungkan orangtua.
Biasanya gejala alergi ditandai dengan mencret, muntah, sembelit, buang air besar berlendir dan berdarah. Terkadang, dibarengi dengan batuk pilek, dan yang paling parah muncul gejala syok anafilaksis.
Untuk memastikannya, coba hentikan pemberian susu formula yang terbuat dari susu sapi itu selama dua hingga empat minggu. Setelah itu, coba berikan susu lagi. Jika terjadi reaksi yang sama, berarti benar bayi alergi susu sapi.
Menurut dr. Badriul Hegar,Sp.A (K) dari Divisi Gastroenterologi, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSUPN Ciptomangunkusumo, untuk bayi yang mengidap alergi susu sapi, ada dua jenis susu khusus yang bisa diberikan. Susu khusus itu adalah susu formula asam amino atau susu formula protein hidrolisat ekstensif.
"Untuk bayi di bawah enam bulan, makanan utamanya kan susu. Kalau ibunya sulit memberikan ASI maka mau tak mau harus menggunakan susu khusus," kata dr. Hegar, yang kerap menangani bayi dengan masalah pencernaan.
Susu formula protein hidrolisat ekstensif adalah jenis susu yang sudah mengalami proses pemecahan protein. Beberapa protein yang menyebabkan alergi dipisahkan agar tidak ikut terkonsumsi bayi.
Lalu, apa yang dimaksud susu formula asam amino? Susu itu merupakan produk susu yang sudah menjalani proses lebih panjang lagi. Dalam proses itu diketahui bahwa kandungan dalam susu sapi yang benar-benar berguna untuk tubuh bayi adalah asam amino. Sehingga dibuatlah susu berbahan dasar asam amino yang mengandung protein dalam bentuk sederhana.
Idealnya, kata dr Hegar, bayi yang mengidap alergi susu sapi mengonsumsi susu formula asam amino ketimbang susu formula protein hidrolisat ekstensif. Dalam terapi, penggunaan susu formula protein hidrolisat ekstensif masih ditemukan kegagal an sekitar 10 sampai 30 persen.
"Rasa susu asam amino juga lebih enak di banding dengan susu hidrolisat," katanya.
Hanya saja, harga susu formula asam amino memang lebih mahal. Karena itu, untuk tahap awal terapi, dapat digunakan susu formula protein hidrolisat ekstensif. Jika menunjukkan hasil yang positif, bisa diteruskan. Tapi jika tidak, sebaiknya segera diganti dengan susu formula asam amino. Namun pada kasus alergi susu sapi yang berat, ditandai dengan syok anafilaksis, susu formula asam amino sebaiknya digunakan sejak awal.
Dengan susu khusus tersebut, kondisi usus bayi bisa diperbaiki dalam waktu dua hari. "Setelah dua minggu, usus sudah bisa berfungsi normal.
Bagaimana dengan susu kedelai, tepatkah diberikan untuk bayi yang mengidap alergi susu sapi? Hal tersebut menurut dr Hegar kurang dianjurkan. "Sebab ditemukan sebanyak 30 sampai 40 persen bayi penderita alergi susu sapi juga alergi terhadap susu kedelai," tuturnya
Pada prinsipnya untuk mengatasi alergi maka si penderita harus dijauhkan dari alergen (bahan-bahan pemicu alergi). Artinya, pada bayi yang mengidap susu sapi, maka menjauhkan dia dari makanan berbahan susu sapi bisa membantu mengurangi alergi.
Satu hal lagi yang patut dicatat, kasus alergi susu umumnya akan hilang saat anak berusia satu tahun ke atas atau sudah berusia 15 tahun. Menurut data, sebanyak 56 persen bayi yang se belumnya menderita alergi susu, su dah menjadi toleran ketika berumur satu tahun. Sedangkan pada umur 15 tahun, 95 persen anak sudah tidak menderita alergi susu lagi. (c62/ri)
http://republika.co.id/berita/
ENTEROBACTER SAKAZAKII
Dari kemarin lagi hangat-hangatnya perbicangan tentang si Sakazakii ini. Sebenarnya subyek ini bukan barang baru lagi, masing teringat kok hebohnya dunia ibu-ibu gara-gara bakteri yang satu itu. Tapi kali ini beda karena akhirnya Mahkamah Agung memenangkan tuntutan agar dibacakannya produk-produk susu formula yang mengandung bakteri ini. Nah, sambil menunggu, Bunda dapat bahan ini dari laman berita ini. Isinya sebagai berikut.
KOMPAS.com - Hari ini, Kementerian Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Institut Pertanian Bogor (IPB) akan mengklarifikasi dan mengumumkan perihal cemaran bakteri Enterobacter sakazakii (E. sakazakii) dalam susu formula anak-anak dan makanan bayi. Pengumuman nama-nama merek susu yang tercemar ini akan dilakukan di Gedung Kementerian Komunikasi dan Informasi.
Sebelumnya, Mahkamah Agung (MA) telah memerintahkan Kementerian Kesehatan, BPOM dan IPB untuk mengumumkan nama produsen susu formula yang ditemukan mengandung bakteri tersebut.
Perintah itu dikeluarkan karena ada salah seorang warga yang menggugat hasil penelitian itu dan menuntut pemerintah mengumumkan para produsen susu sehingga bisa mengambil tindakan pencegahan. MA yang memenangkan gugatan itu kemudian memerintahkan ketiga pihak yakni Kemenkes, Badan POM dan IPB mengumumkan nama produsen.
Berdasarkan hasil penelitian IPB terhadap 74 sampel susu formula, 13,5 persen di antaranya mengandung bakteri berbahaya tersebut. Penelitian sendiri telah dilakukan pada 2008 silam, tetapi ketiga pihak tersebut tidak bersedia mengumumkan.
Untuk sekedar kembali mengingatkan, berikut adalah artikel dari Dr Widodo Judarwanto SpA yang mengulas informasi mengenai bakteri Enterobacter Sakazakii. Apakah cemaran bakteri ini berbahaya pada bayi atau anak? Dan bagaiamana hal itu bisa terjadi?
Gejala keracunan yang ditimbulkan oleh susu formula bayi tidak disebabkan oleh komponen biokimia atau bahan yang terkandung di dalamnya. Manusia dapat mengalami gejala keracunan karena susu tersebut telah terkontaminasi oleh bakteri. Susu dapat menjadi media pertumbuhan yang baik bagi bakteri, karena di dalamnya terdapat komponen biokimia yang juga diperlukan oleh bakteri untuk tumbuh dan berkembang.
Selain E. sakazakii, bakteri lain yang sering mengkontaminasi susu formula adalah Clostridium botulinu, Citrobacter freundii, Leuconostoc mesenteroides Escherichia coli Salmonella agona, Salmonella anatum, Salmonella bredeney, Salmonella ealing, Salmonella Virchow, Serratia marcescens, Salmonella isangi dan berbagai jenis salmonella lainnya.
Enterobacter sakazakii
E. sakazakii pertamakali ditemukan pada tahun 1958 pada 78 kasus bayi dengan infeksi meningitis. Sejauh ini juga dilaporkan beberapa kasus yang serupa pada beberapa Negara. Meskipun bakteri ini dapat menginfeksi pada segala usia tetapi resiko terbesar terkena adalah usia bayi. Peningkatan kasus yang besar di laporkan terjadi di bagian Neonatal Intensive Care Units (NICUs) beberapa rumah sakit di Inggris, Belanda, Amerika dan Kanada.
Di Amerika Serikat angka kejadian infeksi E. sakazakii yang pernah dilaporkan adalah 1 per 100 000 bayi. Terjadi peningkatan angka kejadian menjadi 9.4 per 100 000 pada bayi dengan berat lahir sangat rendah (<1.5 kg) . Sebenarnya temuan peneliti IPB tersebut mungkin tidak terlalu mengejutkan karena dalam sebuah penelitian prevalensi kontaminasi di sebuah negara juga didapatkan dari 141 susu bubuk formula didapatkan 20 kultur positif E. sakazakii. E. sakazakii adalah suatu kuman jenis gram negatif dari keluarga enterobacteriaceae. Organisme ini dikenal sebagai yellow pigmented Enterobacter cloacae. Pada tahun 1980, bakteri ini diperkenalkan sebagai bakteri jenis yang baru berdasarkan pada perbedaan analisa hibridasi DNA, reaksi biokimia dan uji kepekaan terhadap antibiotika. Disebutkan dengan hibridasi DNA menunjukkan E sakazakii 53 - 54% dikaitkan dengan 2 spesies yang berbeda genus yaitu Enterobacter dan Citrobacter.
Pada penelitian tahun 2007, beberapa peneliti mengklarifikasi kriteria taxonomy dengan menggunakan cara lebih canggih yaitu dengan f-AFLP, automated ribotyping, full-length 16S rRNA gene sequencing and DNA-DNA hybridization. Hasil yang didapatkan adalah klasifikasi alternatif dengan temuan genus baru yaitu Cronobacter yang terdiri dari 5 spesies.
Hingga saat ini tidak banyak diketahui tentang virulensi dan daya patogeniotas bakteri berbahaya ini. Bahan enterotoxin diproduksi oleh beberapa jenis strains kuman. Dengan menggunakan kultur jaringan diketahui efek enterotoksin dan beberapa strain tersebut. Didapatkan 2 jenis strain bakteri yang berpotensi sebagai penyebab kematian, sedangkan beberapa strain lainnya non-patogenik atau tidak berbahaya. Hal inilah yang mungkin menjelaskan kenapa sudah ditemukan demnikian banyak susu terkontaminasi tetapi belum banyak dilaporkan terjadi korban terinfeksi bakteri tersebut.
Meskipun infeksi karena bakteri ini sangat jarang, tetapi dapat mengakibatkan penyakit yang sangat berbahaya sampai dapat mengancam jiwa, di antaranya adalah neonatal meningitis (infeksi selaput otak pada bayi), hidrosefalus (kepala besar karena cairan otak berlebihan), sepsis (infeksi berat) , dan necrotizing enterocolitis (kerusakan berat saluran cerna). Sedangkan pada beberapa kasus dilaporkan terjadi infeksi saluran kencing.
Secara umum, tingkat kefatalan kasus (case-fatality rate) atau resiko untuk dapat mengancam jiwa berkisar antara 40-80% pada bayi baru lahir yang mendapat diagnosis infeksi berat karena penyakit ini. Infeksi otak yang disebabkan karena E. sakazakii dapat mengakibatkan infark atau abses otak (kerusakan otak) dengan bentukan kista, gangguan persarafan yang berat dan gejala sisa gangguan perkembangan.
Gejala yang dapat terjadi pada bayi atau anak di antaranya adalah diare, kembung, muntah, demam tinggi, bayi tampak kuning, kesadaran menurun (malas minum, tidak menangis), mendadak biru, sesak hingga kejang. Bayi prematur, berat badan lahir rendah (kurang dari 2.500 gram) dan penderita dengan gangguan kekebalan tubuh adalah individu yang paling berisiko untuk mengalami infeksi ini. Meskipun juga jarang bakteri patogen ini dapat mengakibatkan bakterimeia dan osteomielitis (infeksi tulang) pada penderita dewasa. Pada penelitian terakhir didapatkan kemampuan 12 jenis strain E. sakazakii untuk bertahan hidup pada suhi 58 C dalam proses pemanasan rehidrasi susu formula.
Proses pencemaran
Terjadinya kontaminasi bakteri dapat dimulai ketika susu diperah dari puting sapi. Lubang puting susu memiliki diameter kecil yang memungkinkan bakteri tumbuh di sekitarnya. Bakteri ini ikut terbawa dengan susu ketika diperah. Meskipun demikian, aplikasi teknologi dapat mengurangi tingkat pencemaran pada tahap ini dengan penggunaan mesin pemerah susu (milking machine), sehingga susu yang keluar dari puting tidak mengalami kontak dengan udara.
Pencemaran susu oleh mikroorganisme lebih lanjut dapat terjadi selama pemerahan (milking), penanganan (handling), penyimpanan (storage), dan aktivitas pra-pengolahan (pre-processing) lainnya. Mata rantai produksi susu memerlukan proses yang steril dari hulu hingga hilir, sehingga bakteri tidak mendapat kesempatan untuk tumbuh dan berkembang dalam susu.
Peralatan pemerahan yang tidak steril dan tempat penyimpanan yang tidak bersih dapat menyebabkan tercemarnya susu oleh bakteri. Susu memerlukan penyimpanan dalam temperatur rendah agar tidak terjadi kontaminasi bakteri. Udara yang terdapat dalam lingkungan di sekitar tempat pengolahan merupakan media yang dapat membawa bakteri untuk mencemari susu. Proses pengolahan susu sangat dianjurkan untuk dilakukan di dalam ruangan tertutup.
Manusia yang berada dalam proses pemerahan dan pengolahan susu dapat menjadi penyebab timbulnya bakteri dalam susu. Tangan dan anggota tubuh lainnya harus steril ketika memerah dan mengolah susu. Bahkan, hembusan napas manusia ketika proses pemerahan dan pengolahan susu dapat menjadi sumber timbulnya bakteri. Sapi perah dan peternak yang berada dalam sebuah peternakan harus dalam kondisi sehat dan bersih agar tidak mencemari susu. Proses produksi susu di tingkat peternakan memerlukan penerapan good farming practice seperti yang telah diterapkan di negara-negara maju.
Antisipasi
Dari berbagai penelitian dan pengalaman di beberapa Negara tersebut sebenarnya WHO (World Health Organization), USFDA (United States Food and Drug Administration) dan beberapa negara maju lainnya telah menetapkan bahwa susu bubuk formula bayi bukanlah produk komersial yang steril.
Sedangkan susu formula cair yang siap saji, dianggap sebagai produk komersial steril karena dengan proses pemanasan yang cukup. Sehingga di bagian perawatan bayi NICU, USFDA menggunakan perubahan rekomendasi dengan pemberian susu bayi formula cair siap saji untuk penderita bayi prematur yang rentan terjadi infeksi. Sayangnya di Indonesia produk susu tersebut belum banayak dan relative mahal harganya.
Rekomendasi lain yang harus diperhatikan untuk mengurangi resiko infeksi tersebut adalah cara penyajianh yang baik dan benar. Diantaranya dalah menyajikan hanya dalam jumlah sedikit atau secukupnya untuk setip kali minum untuk mengurangi kuantitas dan waktu susu formula terkontaminasi dengan udara kamar. Meminimalkan hang time atau waktu antara kontak susu dengan udara kamar hingga saat pemberian. Waktu yang direkomendasikan adalah tidak lebih dari 4 jam. Semakin lama waktu tersebut meningktkan resiko pertumbuhan mikroba dalam susu formula tersebut.
Hal lain yang penting adalah memperhatikan dengan baik dan benar cara penyajian susu formula bagi bayi, sesuai instruksi dalam kaleng atau petunjuk umum. Peningkatan pengetahuan orangtua, perawat bayi dan praktisi klinis lainnya tentang prosedur persiapan dan pemberian susu formula yang baik dan benar harus terus dilakukan.
Terlepas benar tidaknya akurasi temuan tersebut sebaiknya pemerintah dalam hal ini departemen kesehatan harus bertindak cepat dan tepat sebelum terjadi kegelisahan dan korban yang memakan jiwa. Sedangkan orangtua tetap waspada dan tidak perlu kawatir berlebihan ternyata temuan tersebut juga pernah dilaporkan oleh USFDA tetapi tidak terjadi kasus luar biasa Karena mungkin sebagian besar adalah kuman non pathogen atau yang tidak berbahaya. Tetapi apapun juga, jangan sampai terjadi banyak anak Indonesia terkorbankan hanya karena keterlambatan mengantisipasi keadaan.
Susu yang terkontaminasi penyebab infeksi :
Clostridium botulinum, satu kasus infeksi (Inggris, 2001) Enterobacter sakazakii, beberapa kasus (beragam negara) Salmonella agona, satu kasus infeksi (Perancis, 2005) Salmonella anatum, satu kasus infeksi (Inggris, 1996) Salmonella bredeney, dua kasus (Australia, 1977; Perancis, 1988) Salmonella ealing, satu kasus (Inggris, 1985) Salmonella london, satu kasus (Korea, 2000) Salmonella tennessee, satu kasus (Amerika Serikat, Kanada, 1993) Salmonella virchow, satu kasus (Spanyol, 1994)
Susu terkontaminasi bakteri di rumahsakit :
Citrobacter freundii, satu kasus Enterobacter sakazakii dan Leuconostoc mesenteroides, satu kasus Enterobacter sakazakii, beberapa kasus Escherichia coli, satu kasus Salmonella isangi, satu kasus Salmonella saintpaul, satu kasus Serratia marcescens, satu kasus
Dr Widodo Judarwanto SpA adalah dokter spesialis anak dari RS Bunda Jakarta, Klinik Kesulitan Makan, Jl. Rawasari Selatan 50, Cempaka Putih, Jakarta Pusat
Subscribe to:
Posts (Atom)



