Showing posts with label others. Show all posts
Showing posts with label others. Show all posts

Thursday, March 31, 2011

I U D

IUD COPPER T, aslinya lebih kecil lho

Hari ini adalah hari ke empat Bunda 'datang bulan', dan merupakan yang pertama kali setelah memutuskan untuk pasang IUD Copper T bulan lalu. Bidan Fira sudah banyak kasih masukan tentang efek samping yang mungkin akan Bunda alami, salah satunya adalah darah haid yang banyak. OK, I can deal with that. Lalu nyeri perut. Hello, I've been having that since before teenage, so i don't think that's a problem.

Hari pertama haid, Senin (28/3), tumben yang keluar tidak sebanyak bulan-bulan sebelumnya. Hari keduapun tidak berbeda. Tapi Bidan Fira juga memperingatkan bahwa beda orang beda efek. Jadi, mungkin Bunda salah satu yang tidak mengalami efek 'kebanjiran' dan sakit melilit itu. Hari ketiga belum ada perubahan sampai sore harinya pas Bunda mau mandi. OMG, ini mah banjir bandang!!! Lalu disusul dengan melilitnya perut yang dua kali lebih sakit dari yang biasanya Bunda alami. Langsung panggil SOS, "Ayaaaaah.....!"

Hari keempat, yaitu saat ini Kamis (31/3), Bunda bukan lagi terkena banjir bandang tapi sudah dilanda sunami. Tidaaaaaak! Pembalut yang baru diganti dua jam lalu, sudah gelebes, bahasa jawanya. Masya Allah. Benar-benar sunami deh. Tapi alhamdulilahnya Bunda tidak mengalami swing mood lho. Emosi dan nafsu makan aman dan terkendali. Biasanya kan lebay banget deh kalau lagi begini.

Tapi di luar semuanya itu, keuntungan yang paling Bunda rasakan adalah ketenangan batin. Dan hal ini merembet ke semakin baiknya hubungan dengan si Ayah. Ayah ingin secepatnya memberikan adik buat Rasyad. OMG, berpikir ke arah situ saja belum. Kenapa? Satu, karena Rasyad lahir dengan sectio, dan Bunda harus menunggu minimal dua tahun untuk bisa hamil lagi. Kedua, Bunda mau kami menstabilkan perekonomian rumah dulu sebelum datang satu lagi anggota baru. Biar semua bisa tumbuh dan berkembang dengan sempurna. Ketiga, Bunda mau punya rumah dulu dong sebelum itu. Biar nanti anak-anak Bunda punya kamar masing-masing dan Bunda bisa mesra-mesraan berdua Ayah. LOL.

Monday, March 14, 2011

SMART PATIENT

Sharing, semoga berguna buat yang membaca...

(dikutip dari buku "Smart Patient" karya dr. Agnes Tri Harjaningrum)

** Dimana Salahnya?**

Malik tergolek lemas. Matanya sayu. Bibirnya pecah-pecah. Wajahnya kian tirus. Di mataku ia berubah seperti anak dua tahun kurang gizi. Biasanya aku selalu mendengar celoteh dan tawanya di pagi hari. Kini tersenyum pun ia tak mau. Sesekali ia muntah. Dan setiap melihatnya muntah, hatiku tergores-gores rasanya. Lambungnya diperas habis-habisan seumpama ampas kelapa yang tak lagi bisa mengeluarkan santan. Pedih sekali melihatnya terkaing-kaing seperti itu.

Waktu itu, belum sebulan aku tinggal di Belanda, dan putraku Malik terkena demam tinggi. Setelah tiga hari tak juga ada perbaikan aku membawanya ke huisart (dokter keluarga) kami, dokter Knol namanya.

"Just wait and see. Don’t forget to drink a lot. Mostly this is a viral infection."  kata dokter tua itu.

"Ha? Just wait and see? Apa dia nggak liat anakku dying begitu?" batinku meradang. Ya…ya…aku tahu sih masih sulit untuk menentukan diagnosa pada kasus demam tiga hari tanpa ada gejala lain. Tapi masak sih nggak diapa-apain. Dikasih obat juga enggak! Huh! Dokter Belanda memang keterlaluan! Aku betul-betul menahan kesal.

"Obat penurun panas Dok?" tanyaku lagi.

"Actually that is not necessary if the fever below 40 C."

Waks! Nggak perlu dikasih obat panas? Kalau anakku kenapa-kenapa memangnya dia mau nanggung? Kesalku kian membuncah.

Tapi aku tak ingin ngeyel soal obat penurun panas. Sebetulnya di rumah aku sudah memberi Malik obat penurun panas, tapi aku ingin dokter itu memberi obat jenis lain. Sudah lama kudengar bahwa dokter disini pelit obat. Karena itu aku membawa setumpuk obat-obatan dari Indonesia, termasuk obat penurun panas.

Dua hari kemudian, demam Malik tak kunjung turun dan frekuensi muntahnya juga bertambah. Aku segera kembali ke dokter. Tapi si dokter tetap menyuruhku wait and see. Pemeriksaan laboratorium baru akan dilakukan bila panas anakku menetap hingga hari ke tujuh.

"Anakku ini suka muntah-muntah juga Dok," kataku.

Lalu si dokter menekan-nekan perut anakku. "Apakah dia sudah minum suatu obat?" 

Aku mengangguk. "Ibuprofen syrup Dok," jawabku.

Eh tak tahunya mendengar jawabanku, si dokter malah ngomel-ngomel,"Kenapa kamu kasih syrup Ibuprofen? Pantas saja dia muntah-muntah. Ibuprofen itu sebaiknya tidak diberikan untuk anak-anak, karena efeknya bisa mengiritasi lambung. Untuk anak-anak lebih baik beri paracetamol saja."

Huuh! Walaupun dokter itu mengomel sambil tersenyum ramah, tapi aku betul-betul jengkel dibuatnya. Jelek-jelek begini gue lulusan fakultas kedokteran tau! Nah kalau buat anak nggak baik kenapa di Indonesia obat itu bertebaran! Batinku meradang.

Untungnya aku masih bisa menahan diri. Tapi setibanya dirumah, suamiku langsung menjadi korban kekesalanku."Lha wong di Indonesia, dosenku aja ngasih obat penurun panas nggak pake diukur suhunya je. Mau 37 keq, 38 apa 39 derajat keq, tiap ke dokter dan bilang anakku sakit panas, penurun panas ya pasti dikasih. Sirup ibuprofen juga dikasih koq ke anak yang panas, bukan cuma parasetamol. Masa dia bilang ibuprofen nggak baik buat anak!" Seperti rentetan peluru, kicauanku bertubi-tubi keluar dari mulutku.

"Mana Malik nggak dikasih apa-apa pulak, cuma suruh minum parasetamol doang, itu pun kalau suhunya diatas 40 derajat C! Duuh memang keterlaluan Yah dokter Belanda itu!"

Suamiku menimpali, "Lho, kalau Mama punya alasan, kenapa tadi nggak bilang ke dokternya?"

Aku menarik napas panjang. "Hmm…tadi aku sudah kadung bete sama si dokter, rasanya ingin buru-buru pulang saja. Tapi…alasannya apa ya?"

Mendadak aku kebingungan. Aku akui, sewaktu praktek menjadi dokter dulu, aku lebih banyak mencontek apa yang dilakukan senior. Tiga bulan menjadi co-asisten di bagian anak memang membuatku kelimpungan dan belajar banyak hal, tapi hanya secuil-secuil ilmu yang kudapat. Persis seperti orang yang katanya travelling keliling Eropa dalam dua minggu. Menclok sebentar di Paris, lalu dua hari pergi ke Roma. Dua hari di Amsterdam, kemudian tiga hari mengunjungi Vienna. Puas beberapa hari berdiam di Berlin dan Swiss, kemudian waktu habis. Tibalah saatnya pulang lagi ke Indonesia. Tampaknya orang itu sudah keliling Eropa, padahal ia hanya mengunjungi ibukota utama saja. Masih banyak sekali negara dan kota-kota di Eropa yang belum disambanginya. Dan itu lah yang terjadi pada kami, pemuda-pemudi fresh graduate from the oven Fakultas Kedokteran. Malah kadang-kadang apa yang sudah kami pelajari dulu, kasusnya tak pernah kami jumpai dalam praktek sehari-hari. Berharap bisa memberikan resep cespleng seperti dokter-dokter senior, akhirnya kami pun sering mengintip resep ajian senior!

Setelah Malik sembuh, beberapa minggu kemudian, Lala, putri pertamaku ikut-ikutan sakit. Suara Srat..srut..srat srut dari hidungnya bersahut-sahutan. Sesekali wajahnya memerah gelap dan bola matanya seperti mau copot saat batuknya menggila. Kadang hingga bermenit-menit batuknya tak berhenti. Sesak rasanya dadaku setiap kali mendengarnya batuk. Suara uhuk-uhuk itu baru reda jika ia memuntahkan semua isi perut dan kerongkongannya. Duuh Gustiiii…kenapa tidak Kau pindahkan saja rasa sakitnya padaku Nyerii rasanya hatiku melihat rautnya yang seperti itu. Kuberikan obat batuk yang kubawa dari Indonesia pada putriku. Tapi batuknya tak kunjung hilang dan ingusnya masih meler saja. Lima hari kemudian, Lala pun segera kubawa ke huisart. Dan lagi-lagi dokter itu mengecewakan aku.

"Just drink a lot," katanya ringan.

Aduuuh Dook! Tapi anakku tuh matanya sampai kayak mata sapi melotot kalau batuk, batinku kesal.

"Apa nggak perlu dikasih antibiotik Dok?" tanyaku tak puas.

"This is mostly a viral infection, no need for an antibiotik," jawabnya lagi.

Ggrh…gregetan deh rasanya. Lalu ngapain dong aku ke dokter, kalo tiap ke dokter pulang nggak pernah dikasih obat. Paling enggak kasih vitamin keq! omelku dalam hati.

"Lalu Dok, buat batuknya gimana Dok? Batuknya tuh betul-betul terus-terusan," kataku ngeyel.

Dengan santai si dokter pun menjawab,"Ya udah beli aja obat batuk Thyme syrop. Di toko obat juga banyak koq."

Hmm…lumayan lah… kali ini aku pulang dari dokter bisa membawa obat, walau itu pun harus dengan perjuangan ngeyel setengah mati dan walau ternyata isi obat Thyme itu hanya berisi ekstrak daun thyme dan madu.

"Kenapa sih negara ini, katanya negara maju, tapi koq dokternya kayak begini." Aku masih saja sering mengomel soal huisart kami kepada suamiku. Saat itu aku memang belum memiliki waktu untuk berintim-intim dengan internet. Jadi yang ada di kepalaku, cara berobat yang betul adalah seperti di Indonesia. Di Indonesia, anak-anakku punya langganan beberapa dokter spesialis anak. Dokter-dokter ini pernah menjadi dosenku ketika aku kuliah. Maklum, walaupun aku lulusan fakultas kedokteran, tapi aku malah tidak pede mengobati anakanakku sendiri. Dan walaupun anak-anakku hanya menderita penyakit sehari-hari yang umum terjadi pada anak seperti demam, batuk pilek, mencret, aku tetap membawa mereka ke dokter anak. Meski baru sehari, dua atau tiga hari mereka sakit, buru-buru mereka kubawa ke dokter. Tak pernah aku pulang tanpa obat. Dan tentu saja obat dewa itu, sang antibiotik, selalu ada dalam kantong plastik obatku.

Tak lama berselang putriku memang sembuh. Tapi sebulan kemudian ia sakit lagi. Batuk pilek putriku kali ini termasuk ringan, tapi hampir dua bulan sekali ia sakit. Dua bulan sekali memang lebih mendingan karena di Indonesia dulu, hampir tiap dua minggu ia sakit. Karena khawatir ada yang tak beres, lagi-lagi aku membawanya ke huisart.

"Dok anak ini koq sakit batuk pilek melulu ya, kenapa ya Dok."

Setelah mendengarkan dada putriku dengan stetoskop, melihat tonsilnya, dan lubang hidungnya,huisart-ku menjawab,"Nothing to worry. Just a viral infection."

Aduuuh Doook… apa nggak ada kata-kata lain selain viral infection seh!  Lagilagi aku sebal.

"Tapi Dok, dia sering banget sakit, hampir tiap sebulan atau dua bulan Dok," aku ngeyel seperti biasa.

Dokter tua yang sebetulnya baik dan ramah itu tersenyum. "Do you know how many times normally children get sick every year?"

Aku terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. "enam kali," jawabku asal.

"Twelve time in a year, researcher said," katanya sambil tersenyum lebar. "Sebetulnya kamu tak perlu ke dokter kalau penyakit anakmu tak terlalu berat," sambungnya.

Glek! Aku cuma bisa menelan ludah. Dijawab dengan data-data ilmiah seperti itu, kali ini aku pulang ke rumah dengan perasaan malu. Hmm…apa aku yang salah? Dimana salahnya? Ah sudahlah…barangkali si dokter benar, barangkali memang aku yang selama ini kurang belajar.

Setelah aku bisa beradaptasi dengan kehidupan di negara Belanda, aku mulai berinteraksi dengan internet. Suatu saat aku menemukan artikel milik Prof. Iwan Darmansjah, seorang ahli obat-obatan dari Fakultas Kedokteran UI. Bunyinya begini: "Batuk - pilek beserta demam yang terjadi sekali-kali dalam 6 - 12 bulan sebenarnya masih dinilai wajar. Tetapi observasi menunjukkan bahwa kunjungan ke dokter bisa terjadi setiap 2 - 3 minggu selama bertahun-tahun." Wah persis seperti yang dikatakan huisartku, batinku. Dan betul anak-anakku memang sering sekali sakit sewaktu di Indonesia dulu.

"Bila ini yang terjadi, maka ada dua kemungkinan kesalahkaprahan dalam penanganannya," Lanjut artikel itu. "Pertama, pengobatan yang diberikan selalu mengandung antibiotik. Padahal 95% serangan batuk pilek dengan atau tanpa demam disebabkan oleh virus, dan antibiotik tidak dapat membunuh virus. Di lain pihak, antibiotik malah membunuh kuman baik dalam tubuh, yang berfungsi menjaga keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi imunitas si anak, sehingga daya tahannya menurun. Akibatnya anak jatuh sakit setiap 2 - 3 minggu dan perlu berobat lagi.

Lingkaran setan ini: sakit –> antibiotik-> imunitas menurun -> sakit lagi, akan membuat si anak diganggu panas-batuk-pilek sepanjang tahun, selama bertahun-tahun."

Hwaaaa! Rupanya ini lah yang selama ini terjadi pada anakku. Duuh…duuh..kemana saja aku selama ini sehingga tak menyadari kesalahan yang kubuat sendiri pada anak-anakku. Eh..sebetulnya..bukan salahku dong. Aku kan sudah membawa mereka ke dokter
spesialis anak. Sekali lagi, mereka itu dosenku lho! Masa sih aku tak percaya kepada mereka. Dan rupanya, setelah di Belanda 'dipaksa' tak lagi pernah mendapat antibiotik untuk penyakit khas anak-anak sehari-hari, sekarang kondisi anak-anakku jauh lebih baik. Disini, mereka jadi jarang sakit, hanya diawal-awal kedatangan saja mereka sakit.

Kemudian, aku membaca lagi artikel-artikel lain milik prof Iwan Darmansjah. Dan di suatu titik, aku tercenung mengingat kata-kata 'pengobatan rasional'. Lho…bukankah dulu aku juga pernah mendapatkan kuliah tentang apa itu pengobatan rasional. Hey! Lalu kemana perginya ingatan itu? Jadi, apa yang selama ini kulakukan, tidak meneliti baik-baik obat yang kuberikan pada anak-anakku, sedikit-sedikit memberi obat penurun panas, sedikit-sedikit memberi antibiotik, baru sehari atau dua hari anak mengalami sakit ringan seperti, batuk, pilek, demam, mencret, aku sudah panik dan segera membawa anak ke dokter, serta sedikit-sedikit memberi vitamin. Rupanya adalah tindakan yang sama sekali tidak rasional! Hmm... kalau begitu, sistem kesehatan di Belanda adalah sebuah contoh sistem yang menerapkan betul apa itu pengobatan rasional.

Belakangan aku pun baru mengetahui bahwa ibuprofen memang lebih efektif menurunkan demam pada anak, sehingga di banyak negara termasuk Amerika Serikat, ibuprofen dipakai secara luas untuk anakanak. Tetapi karena resiko efek sampingnya lebih besar, Belgia dan Belanda menetapkan kebijakan lain. Walaupun obat ibuprofen juga tersedia di apotek dan boleh digunakan untuk usia anak diatas 6 bulan, namun di kedua negara ini, parasetamol tetap dinyatakan sebagai obat pilihan pertama pada anak yang mengalami demam. "Duh, untung ya Yah aku nggak bilang ke huisart kita kalo aku ini di Indonesia adalah seorang dokter. Kalo iya malu-maluin banget nggak sih, ketauan begonya hehe," kataku pada suamiku.

Jadi, bagaimana dengan para orangtua di Indonesia? Aku tak ingin berbicara terlalu jauh soal mereka-mereka yang tinggal di desa atau orang-orang yang terpinggirkan, ceritanya bisa lain. Karena kekurangan dan ketidakmampuan, untuk kasus penyakit anak sehari-hari, orang-orang desa itu malah relatif 'terlindungi' dari paparan obat-obatan yang tak perlu. Sementara kita yang tinggal di kota besar, yang cukup berduit, sudah melek sekolah, internet dan pengetahuan, malah kebanyakan selalu dokter-minded dan gampang dijadikan sasaran oleh perusahaan obat dan media. Batuk pilek sedikit ke dokter, demam sedikit ke dokter, mencret sedikit ke dokter. Kalau pergi ke dokter lalu tak diberi obat, biasanya kita malah ngomel-ngomel, 'memaksa' agar si dokter memberikan obat. Iklan-iklan obat pun bertebaran di media, bahkan tak jarang dokter-dokter 'menjual' obat tertentu melalui media. Padahal mestinya dokter dilarang mengiklankan suatu produk obat.

Dan bagaimana pula dengan teman-teman sejawatku dan dosen-dosenku yang kerap memberikan antibiotik dan obat-obatan yang tidak perlu pada pasien batuk, pilek, demam, mencret? Malah aku sendiri dulu pun melakukannya karena nyontek senior. Apakah manfaatnya lebih besar dibandingkan resikonya? Tentu saja tidak. Biaya pengobatan membengkak, anak malah gampang sakit dan
terpapar obat yang tak perlu. Belum lagi bahaya besar jelas mengancam seluruh umat manusia: superbug, resitensi antibiotik! Tapi mengapa semua itu terjadi?

Duuh Tuhan, aku tahu sesungguhnya Engkau tak menyukai sesuatu yang sia-sia dan tak ada manfaatnya. Namun selama ini aku telah alpa. Sebagai orangtua, bahkan aku sendiri yang mengaku lulusan fakultas kedokteran ini, telah terlena dan tak menyadari semuanya. Aku tak akan eling kalau aku tidak menyaksikan sendiri dan tidak tinggal di negeri kompeni ini. Apalagi dengan masyarakat awam, para orangtua baru yang memiliki anak-anak kecil itu. Jadi bagaimana mengurai keruwetan ini seharusnya? Uh! Memikirkannya aku seperti terperosok ke lubang raksasa hitam. Aku tak tahu, sungguh!

Tapi yang pasti kini aku sadar…telah terjadi kesalahan paradigma pada kebanyakan kita di Indonesia dalam menghadapi anak sakit. Disini aku sering pulang dari dokter tanpa membawa obat. Aku ke dokter biasanya 'hanya' untuk konsultasi, memastikan diagnosa penyakit anakku dan penanganan terbaiknya, serta meyakinkan diriku bahwa anakku baik-baik saja. Tapi di Indonesia, bukankah paradigma yang masih kerap dipegang adalah ke dokter = dapat obat? Sehingga tak jarang dokter malah tidak bisa bertindak rasional karena tuntutan pasien. Aku juga sadar sistem kesehatan di Indonesia memang masih ruwet. Kebijakan obat nasional belum berpihak pada rakyat. Perusahaan obat bebas beraksi‘ tanpa ada peraturan dan hukum yang tegas dari pemerintah. Dokter pun bebas meresepkan obat apa saja tanpa ngeri mendapat sangsi. Intinya, sistem kesehatan yang ada di Indonesia saat ini membuat dokter menjadi sulit untuk bersikap rasional.

Lalu dimana ujung pangkal salahnya? Ah rasanya percuma mencari-cari ujung pangkal salahnya. Menunjuk siapa yang salah pun tak ada gunanya. Tapi kondisi tersebut jelas tak bisa dibiarkan. Siapa yang harus memulai perubahan? Pemerintah, dokter, petugas kesehatan, perusahaan obat, tentu semua harus berubah. Namun, dalam kondisi seperti ini, mengharapkan perubahan kebijakan pemerintah dalam waktu dekat sungguh seperti pungguk merindukan bulan. Yang pasti, sebagai pasien kita pun tak bisa tinggal diam. Siapa bilang pasien tak punya kekuatan untuk merubah sistem kesehatan? Setidaknya, bila pasien 'bergerak', masalah kesehatan di Indonesia, utamanya kejadian pemakaian obat yang tidak rasional dan kesalahan medis tentu bisa diturunkan.

Wednesday, February 2, 2011

Happy Birthday Rasyad


I remember seeing my baby the first time
Amazing was a simplified word to use
It's like you had the world and heaven both in your hands
You feel the weight of burden from the upcoming years, yet you think you can fly in the same moment
And you finally knows what unconditional love feel like


Then, there you are, one year older than when we first met
Stronger then lion, cute as a pie

My baby boy, happy birthday
Don't you know that I will always see you 
The way I see you when we first met

Tuesday, January 25, 2011

Asli atau Palsu: Cara Membedakan Make Up 2

OK, melanjutkan postingan sebelumnya yang terpotong karena halamannya ga muat. OMG, baru tahu kalau blogspot pendek sekali ya halamannya. Atau servernya yang lagi lama ya. Anyway, ini terusannya ya. 

3. Bila menjual Eyeshadow Satuan, di gambarnya hanya tertera NOMOR bukan KATA

Mungkin para seller akan berkata, ini hanya untuk mempermudah saja. satu kata, BOHONG! Buka link ini untuk melihat warna warna dari MAC yang asli. Mereka SELALU menyebut warna mereka dengan kata-kata eksotik. Misal untuk warna ungu ada = Purple Haze, Satellite Dreams, Creme de Violet


Hal tersebut juga TIDAK HANYA BERLAKU UNTUK EYESHADOW, tapi juga lipstick dan lipgloss. Lipstick MAC bernama! Seperti Speed Dial, Lady danger, dll. BUKAN NOMOR!!

4. Eyeliner memiliki TUTUP YANG TIDAK LAYAK

Tentunya untuk Brand setaraf MAC dengan harga yang luar biasa mahal, tidak mungkin hanya  memberikan anda tutup plastik bening. Eyeliner MAC yang asli tutupnya berwarna hitam, dan ada tulisan MAC.

5. Nomor Foundation Tidak Sesuai!

Apakah anda semua tahu kalau semakin tinggi nomornya, semakin gelap warna foundationnya?

Dengan melihat gambar foundation foundation tersebut, gelap dan terang foundation itu teracak-acak, TIDAK ADA NC20 SEGELAP ITU ataupun NC50 SETERANG ITU! Suatu hal yang tidak mungkin kalau NC 20 lebih gelap daripada NC30. Karena tentunya semakin rendah nomor foundation, semakin terang pula warnanya.

Foto di atas hanyalah sedikit dari sebagian foto yang memakai jasa NC20 dan sebagainya [menggunakan hurup sebagai kode di depannya] Kebanyakan, mereka juga menggunakan jasa nomor saja seperti 01, 02, dll. MAC asli tidak mungkin menggunakan nomor-nomor seperti itu tanpa adanya kode yang benar. untuk mengecek kode keaslian lebih baik langsung dicek di website MAC http://www.maccosmetics.com/product/spp.tmpl?CATEGORY_ID=CAT158&PRODUCT_ID=471

Untuk beberapa barang yang lain, cukup hanya dengan menggunakan beberapa pengetahuan di atas tentunya akan mengetahui bahwa yang dijual adalah palsu. Cukup dengan hanya tahu bahwa salah satu produk yang dijual adalah PALSU, tentunya seller itu sudah tidak dapat dipercaya lagi karena tentunya produk lain yang ia jual juga PALSU. Karena bila ia sudah menipu para customer 1x, tentunya dia akan menipu lagi.

Seringkali saya menemukan penjual palsu seperti ini, dan saya mengatakan hal-hal tsb ini kepada mereka. Ada yang tidak tahu bahwa mreka menjual barang palsu dan langsung menstopnya [seller yang bertanggung jawab], dan ada yang malah mencaci maki saya dengan kata-kata annoying dan berkata “ini bukan urusan lo, tolong urus urusan lo sndiri aja”. Wah wah, sebegitu pentingnya kah uang sehingga menipu orang lain? Memang ini bukan urusan saya, tapi saya cukup teramat prihatin dengan kondisi kondisi ini. Saya mengepos ini bukan untuk apa-apa melainkan hanya ingin membagi pengetahuan saya yang terbatas ini kepada para pengguna kosmetik terkemuka lainnya.  tentunya bila anda merasa adanya tambahan cara mengetahui kosmetik palsu tanpa perlu membelinya, anda bisa komen di post ini dan membaginya dengan kami semua..

Gambar-gambar produk palsu di atas adalah gambar yang dijual oleh seller cina kenalan saya. Ia menjual itu secara worldwide, tapi tentunya saya tidak membeli produk2 MAC darinya. selain MAC, ia juga menjual benefit, lancome, dll. so, BEWARE!

Last but not least, jangan kira bahwa para seller itu sebodoh yang kita bayangkan. Dengan harga modal misalnya 50ribu, seller utama akan menjual dengan harga berkisar antara 70-100ribu dengan berkata itu harga reseller kepada para pembeli yang akan menjual lagi. Para reseller ini akan menjual kembali barang-barang palsu ini dengan menaikkan menjadi 100-300ribu agar terkesan HANYA BERBEDA SEDIKIT DENGAN HARGA ASLINYA, serta untuk MENDAPAT UNTUNG YANG BANYAK. Para pembeli yang tentunya tahu bahwa harga MAC itu mahal, dan berbeda sedikit dengan harga toko. misal diskon hanya 10-20%, akan merasa bahwa itu asli sebab hanya MAC palsu yang murah.

PEMIKIRAN ITU SALAH!

Sebab mereka sudah mengetahui jalan pikiran anda. Mereka akan menaikkan harga agar anda berpikir bahwa produk mereka itu ASLI!

Maka dari itu, berhati-hatilah untuk membeli. Tidak perlu bertanya pula kepada sellernya apakah asli atau tidak bila anda sudah mengetahui kenyataan ini, sebab tidak ada maling yang mengaku! Bila anda merasa aware juga dengan keadaan ini, silahkan sebarkan link blog saya kepada teman-teman anda agar teman-teman anda tidak akan ikut tertipu dengan para seller ini.


Dan bila ada kesalahan dalam pengamatan saya, saya meminta maaf karena disini saya hanya membagi pengetahuan yang saya rangkumkan dari pengetahuan saya dan beberapa teman saya yang juga turut prihatin dan mengetahui kenyataan ini. 

Salam hangat,
Stella Lee

Asli atau Palsu: Cara Membedakan Make Up 1

Tulisan ini merupakan tulisan Stella Lee yang intinya mengkhawatirkan perdagangan bebas make up high end palsu di Indonesia. Untuk membaca tulisan Stella yang lain, silahkan klik di sini. Semua foto di sini saya ambil langsung dari blognya, kecuali foto eye shadow yang satuan. Stella telah menyetujui respost dari tulisannya ini karena kepeduliannya terhadap wanita Indonesia yang rentan terkena dampak pemalsuan ini. two thumbs up for her. Masih remaja, tapi pengetahuannya tentang dunia per-make up-an udah suhu lah dibandingkan dengan saya yang pake lipstick aja males (walaupun punya koleksi PAC yang lumayan lengkap dan selalu dibawa kemana-mana itu *hehe tetep ngeles*). Ada beberapa grammer tulisan yang saya edit demi kelancaran membaca ya (for God's shake, she's only a teenager ;D). OK, keep on reading ya...

Saya cukup heran dengan kehadiran banyaknya MAC palsu di indonesia. Bukan Hanya MAC., Benefit, Dior, Lancome, dll pun sudah banyak. Bisa bertanya pada saya dimana anda ingin membelinya. saya bisa menyediakannya dengan harga yang teramat murah! Walau dulu memang sudah banyak beredar, tapi tidak sepesat sekarang. Apalagi banyak penjual tidak bertanggung jawab yang mengatakan dengan keyakinan yang luar biasa bahwa produk mereka asli dan memasang harga yang sangat tinggi untuk mengelabui customer yang tidak paham mengenai hal ini.

Saya, adalah seorang penjual, seorang importir make up baik dari Cina, Korea, Jepang, maupun USA dan sedikit banyak cukup tahu mengenai keaslian suatu barang. Mungkin lebih baik dibandingkan oleh orang awam kebanyakan. Saya pun memiliki teman2 supplier dari Cina yang menjual barang-barang tersebut kepada saya. Tapi selama saya tidak menyenangi memakai maka saya tidak akan menjual barang-barang tsb. 

Saya selama ini cukup hanya dengan mengetahui dan membagi rahasia tersebut kepada beberapa teman saja
Tetapi pada post kali ini saya akan membahas sedikit banyak cara untuk melihat apakah produk itu asli atau bukan tanpa membelinya. Karena tentunya bagi orang yang sudah pernah membeli produk MAC atau brand-brand terkemuka lainnya, dengan membelinya merupakan cara terbaik untuk mengetes warna dan kadar long-lasting dari suatu make up tersebut untuk menentukan apakah produk tsb palsu atau tidak. Ciri-cirinya adalah sbb: 

1. Eyeshadow yang dijual menawarkan banyak warna di dalamnya

MAC atau brand terkemuka lainnya SELALU menjual eyeshadow satuan seperti eyeshadow di bawah ini.


Memang ada satu kesempatan di mana mereka menjual eyeshadow palette. Tapi CATAT bahwa mereka tidak pernah menawarkan eyeshadow lebih dari 4 warna dalam satu palette. Dan bila memang ada yang lebih dari 4, saya rasa itu hanyalah satu session palette yang termasuk dalam kategori limited edition dan tidak mungkin anda semua bisa mendapatkannya di seller biasa. Bahkan counter pun kadang tidak menyediakannya.
Kalaupun para make up artists memakai banyak sekali eyeshadow dalam satu palette, mereka membeli palette kosong dan mengisinya sendiri. BUKAN LANGSUNG SATU SET

2. Eyeliner dan Mascara dijadikan dalam satu box!

Sepanjang pengetahuan saya, tidak pernah dijual eyeliner dan mascara dalam satu box. MAC dan produk2 terkemuka lainnya cukup tidak murah hati untuk membiarkan pelanggannya membeli dengan harga yang lebih murah daripada membeli satuan. mereka SELALU MENJUAL TERPISAH!!

Tentunya kalau anda semua melihat yang satu box yang seperti ini, sudah tahu kan artinya?