Wednesday, November 10, 2010

Manusia Lahir dan (Pasti) Mati

You would know the secret of death.
But how shall you find it unless you seek it in the heart of life? 
(Kahlil Gibran on Death)


Katanya tua itu pasti, tapi dewasa adalah pilihan. Sama halnya dengan mati itu pasti, namun menjalani hidup 'live the life' merupakan pilihan. Manusia itu seperti ranting daun kecil yang selalu tertiup bila angin datang, dan patah kalau badai menerjang. Manusia itu seperti ranting kecil yang dapat menuliskan kata di atas pasir, walau air pasang dan tanpa waktu akan menghapusnya. Namun yang pasti kata itu telah pernah tertulis.

Tulisan pertama ini khusus saya buat untuk mengenang dua sahabat yang pergi begitu cepat, meninggalkan impian, memori, kata maaf, dan pelukan hangat di belakangnya. Tanpa pamit, seperti ingin mengabarkan kepergiannya hanya kepada angin agar tiada hati yang condong kasihan. Walaupun mengasihani bukan selalu memandang setengah hati tapi cerminan rasa sayang. Walau dengan melihat mereka merintih tidaklah kita akan berpaling risih, tapi dengan hati lapang memberikan dada dan rengkuhan untuk menenangkan.

Kawan, maaf kalau kata maaf selalu datang terlambat. Maaf untuk selalu sibuk dengan alasan ketika kau mungkin membutuhkan. Maaf untuk semua rasa iri, rasa dengki, cemburu yang mungkin pernah menyinggahiku. Pergilah kawan, aku ikhlaskan kau walau sakit hati ini sewaktu meninggalkan kesempatan untuk melihatmu terakhir kali. Sampai jumpa lagi.

In memory of Dian Utami Dewi dan M. Ari Satriana

2 comments:

  1. Mereka memang hampir tidak pernah mengeluh akan rasa sakit yang diderita. Tapi kekuatan untuk sembuh dan kekuatan untuk selalu tertawa memberikan kita semangat untuk selalu lebih baik dan mengingat Allah SWT. Amin..

    We Love them both :)

    ReplyDelete
  2. Iya irna, we usually never know what we had until it's gone. That's why we should cherish every single moment with our love ones.

    ReplyDelete