Showing posts with label hujan. Show all posts
Showing posts with label hujan. Show all posts

Wednesday, January 5, 2011

Menari di Bawah Hujan

Semuanya bermula tidak lama setelah ia lahir. Ia selalu memiliki ketertarikan yang besar kepada air. Aku ingat suatu hari ketika kami memandikannya di bak (pada saat itu aku tidak memiliki keberanian untuk melakukannya sendiri, jadi memandikannya adalah tugas ‘beregu’ aku, mamaku, dan sepupuku), ia mengepak-ngepakkan tangannya ke air seperti hendak terbang, dan menendang-nendangkan kakinya sehingga seluruh ruangan menjadi penuh dengan ceceran air. Ia tertawa-tawa dengan suara kecilnya, terlihat sangat bahagia. Umurnya saat itu baru dua bulan.

Saat melihat itu semua aku berjanji kepadanya dalam hati, janji yang sebenarnya lebih kutujukan kepada diri sendiri, bahwa aku akan mengajaknya bermain hujan-hujanan pada saat ia berusia setahun nanti. Janji itu sendiri merupakan hal yang egois karena aku mau menjadi satu-satunya manusia yang memperkenalkan kehidupan dan dunia ini kepadanya. Bagiku tak ada manusia lain yang sepertinya pantas untuk melakukan hal tersebut, bahwa mereka hanya akan menodai ingatan anakku akan kehidupan. Sebenarnya adalah aku tak lebih baik dari semua manusia lain. Hanya saja aku terlalu mencintai lelaki kecil ini sampai aku tak kuasa membayangkan ada orang-orang lain mengisi kehidupannya. Seperti yang kubilang, ini adalah hal yang egois.

Ia lalu tumbuh menjadi anak yang sehat dan sangat aktif, dan kecintaannya akan air kian berkembang. Karena itu Sabtu kemarin aku melanggar sumpahku sendiri. Aku bawa ia ke dalam perjalanan yang selalu dirindukan manusia-manusia dewasa, perjalanan yang membuat sebagian anak kecil lain iri. Sesuatu yang sudah lama sekali aku tinggalkan (mungkin karena hal-hal yang mengiringi saat kita menjadi ‘dewasa’) dan sangat kurindukan. Aku mengajaknya untuk bermain hujan-hujanan.

Hari itu hujan turus sangatlah derasnya sehingga kami tidak bisa bermain di luar. Maka kutaruh ia di pintu kecil (Ayahnya menaruh kayu tebal setengah ukuran pintu yang berfungsi sebagai pintu geser untuk mencegah tikus-tikus masuk), di mana ia masih bisa melihat dan merasakan hujan. Ia menjangkaukan tangannya jauh seakan-akan ingin menyentuh air yang turun dari langit itu. Matanya berkerjap-kerjap terkena percikannya. Ia lalu menjadi sangat bersemangat sampai berteriak-teriak dan tertawa-tawa sambil melihatku dengan mata bulatnya. Seketika aku merasakan suatu sensasi dari dalam hatiku. Saat itulah aku langsung menggendongnya dan membawanya ke luar. Sambil memeluknya erat aku bawa ia menari di bawah air hujan. Nyanyianku mungkin saja kalah keras dari derasnya hujan yang turun, tapi aku tahu ia bisa mendengarnya. Aku tahu anakku dapat mendengar hatiku yang sedang bernyanyi dan menjanjikan bahwa aku tidak akan pernah melepaskan pelukanku. Bahkan saat hujan datang dan pergi, aku akan tetap berada di sini. Bahkan jika hidup akan menjadi sulit nantinya, aku akan tetap berada di sampingnya.

Anakku, hidup bukanlah persoalan menunggu kapan badai akan berlalu, hidup adalah tentang bagaimana kita bisa menari di tengah hujan.

Bunda sayang Rasyad. 

Monday, November 15, 2010

Dancing in the Rain

It all started not long after he was born. He always have this fascination on waters. I remember one day when we bath him in his tub (by then I didn't have the nerve to do it  myself), he would clap his hands to the water as if ready to fly, and throw his feet up and down so by the end of the bathing session the whole room was full with puddle. He was laughing with his little voice, feeling so happy. He was only two months old.

When I saw that I promised to him, and more to myself, that I would take him playing in the rain when he is one year old. The promise itself is a selfish thing, as I want to be the only person to introduce life to him. Seems that the rest of the people don't know life better than I do, and all of them would only stain my innocent son. The truth: I am no better than you. It's just I love my son so much, that I can't stand to imagine others to be in his memory. Like I said, it's a selfish thing.

Growing to be a healthy and unstoppable son that he is, his love to water and rain grows. So last Saturday I broke  my own vow. I took him to a journey that all grown up people miss, all kids envy. A thing that I haven't done anymore in ages ( I think it's the 'adult thing') and missing it. I took him to play in the rain.

Since it was heavy raining and we can't play outside, I put him in the door (his Dad had put this thick wood, half door size as a sliding door to avoid rats visiting the house), where he still can see and feel the splash of rain. He stretched out his hand as if to touch the pouring rain. His eyes were blinking because of the splashed water. And he was so excited he started to screams and laugh, and looked at me with his round eyes. Suddenly I felt an urge to just do it. So then, I took him out. Holding him is my arms and dancing in the rain. The sound of the rain might beat out my singing voice, but I know he car hear it. I know my son can listen my singing heart promising to never let go of these hands. Even when the rain comes and go, I will stay. Even when things gets harder later, I will stay.

My son, it is never about waiting the storm to pass, it is about dancing in the rain.


Bunda loves Rasyad